Meringankan Kepala

Hari ini rasanya kepala ini berat sekali. Mungkin efek dari rambut yang sudah mulai panjang hehehe. Jadilah saya menyempatkan diri untuk pergi ke tukang cukur dan memotong rambut.

Sesampai disana, seperti biasa antrian tidak terlalu ramai. Berselang sekitar sepuluh menit, aku mendapat giliran untuk potong rambut. Aku langsung duduk dengan mantap di kursinya. Walaupun saat itu semuanya terasa dingin.

Awalnya aku sedikit curiga dengan si pencukur karena dia langsung pakai no 2 untuk memotong bagian samping. Tidak tanggung-tanggung, dia membabat habis bagian samping kepalaku dan masuk ke daerah kritis.

Dan ternyata benar saja, potongannya jadi kacau, hahaha. Setelah beberapa menit mencoba memperbaiki sana sini, kami tidak bisa menemukan hasil yang maksimal. Alhasil aku memutuskan untuk memotong habis rambut ini.

image

Hahaha,,,,, sepertinya sudak lama sekali sejak aku memotong rambut seperti ini.

Tapi tak apalah, hitung hitung meringankan beban kepala hari ini. Semoga ini bisa menjadi momen yang baik untuk tahap kehidupan selanjutnya. Terimakasih tukang cukur, anda berhasil meringankan kepala ini, hehehe.

Iklan

Maaf dan Terimakasih

Akhirnya setelah melalui kontemplasi yang cukup panjang, aku memutuskan untuk berkata cukup. Bukan karena menyerah, bukan pula karena aku bosan. Keputusan ini telah hadir sejak lama. Hanya saja hati selalu berhasil mencari celah untuk memberi pembenaran atas semua tindakanku selama ini.

Kalau boleh meminjam istilahmu, prematur adalah kata yang tepat untuk menjadi alasan semua ini dihentikan, bukan lagi dikurangi. Aku takut jika kita terlalu lama, bahkan dengan sekian aturan yang kita punya, kita dapat tersesat lagi.

image

Maaf karena tak memberi tanda-tanda yang jelas tentang semua ini terlebih dahulu. Maaf terlalu jauh membawamu dalam cerita ini. Maaf karena mimpi-mimpi yang tak bisa ku wujudkan saat ini. Maaf pula atas semua ketidaknyamanan ini.

Terimakasih telah menjadi bagian dari cerita ini. Terimakasih telah membawa diri ini menaiki roller coster yang luar biasa hebatnya. Terimakasih telah menjadi pengingat disaat diri ini lalai. Terimakasih telah banyak membuat diri ini berubah. Terimakasih banyak.

Selamat berjuang, semoga sukses :”)

Halo semua, selamat bersapa kembali. Kali ini saya tidak akan berbagi mengenai cerita-cerita memilukan atau kisah-kisah sedih dulu, hehehe. Beberapa hari ini saya sedang menyelesaikan beberapa course online yang saya ambil di Microsoft Virtual Academy (MVA). Nah apa itu MVA? Ini adalah semacam kuliah online yang disediakan oleh Microsoft dengan cuma-cuma. Jadi bagi kalian yang tertarik untuk belajar tentang teknologi informasi atau produk-produk Microsoft bisa banget buat main kesini dulu, nanti di akhir kuliah kalian akan mendapatkan sertifikat semacam ini:D

Screenshot (75)
Sertifikat Kuliah Keamanan di Dunia Berbasis Cloud

Dalam kuliah ini saya belajar tentang bagaimana keamanan dunia yang berbasiskan cloud. Mungkin diantara kalian ada yang belum tahu apa itu cloud. Apakah itu awan? Adapun yang dimaksud cloud adalah suatu komputer yang letaknya entah dimana yang bisa kita akses melalui internet. Di komputer itu kita bisa menginstal OS, Aplikasi, membuat website dan masih banyak lagi. Karena semua sistem ini terhubung memalui internet makanya kita menyebutnya Cloud. Hmmm kira-kira seperti itulah. Kalau ga paham mari nanti kita diskusi :v

Salah satu penyedia layanan cloud saat ini adalah Microsoft, dengan layanan yang disebut Microsoft Azure. Pada layanan ini kita benar-benar diberi kebebasan untuk melakukan banyak hal. Kita bisa membuat website, memasang Insight, membuat back-end untuk aplikasi mobile dan lain-lain. Dan yang lebih hebatnya lagi, kita tidak hanya dibatasi pada produk microsoft, kita juga bisa menginstal ubuntu, redHet, linux, dan lain-lain di layanan ini.

Screenshot (76)

Pada Azure terdapat beberapa tipe layanan yang bisa kita gunakan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar berikut.

layanan cloud

Misalkan kita ingin membuat aplikasi mobile, maka kita bisa membuat back-end nya di Azure. Kita tidak perlu pusing pusing memikirkan OS, virtualisasi atau semacamnya nya lagi. Kita cukup fokus pada bisnis, dan biarkan Azure mengurus sisanya. ini adalah salah satu kenyamanan yang kita dapat ketia menggunakan azure. Saya sendiri telah mencoba membuat website dengan menggunakan Azure. Saya sangat puas dengan mudahnya menggunakan layanan ini. Walaupun saat ini saya hanya menggunakan subscribtion dreamspark, saya sudah bisa merasakan betapa powerfull nya Microsoft Azure ini.

Bagi kalian yang masih mahasiswa kalian bisa mendapatkan subscribtion di azure melalui dreamspark dengan cuma-cuma. Cukup gunakan alamat email kampus saat mendaftar di dreamspark. Voila ! Kalian akan mendapatkan banyak produk microsoft dengan cuma-cuma. Terima Kasih Microsoft 😀

Kita adalah cerita, tak perlu bersua untuk saling menyapa. Kita layaknya aksara, biarkan aku mendekat walau lagi-lagi hanya menjadi pembaca cerita. Ingin rasanya aku menuliskan semua ke dalam buku. Sebut saja buku ‘KITA’, yang setiap waktu bisa kita baca bersama, meski di belahan bumi yang berbeda
Sambil sesekali melihat layar ponsel, aku pun melanjutkan menulis ceritaku di blog. Di musim liburan seperti ini lah menurutku waktu-waktu terbaik untuk kuhabiskan berdamai dengan kata dan cerita. Atau terkadang berjam-jam kubunuh waktu hanya dengan membuat poster dan menjelajah di internet. Sekali lagi aku melihat layar ponselku, akhirnya kutemukan namanya menggantung di sana. Ada dua pesan darinya, seperti biasa setiap pukul 21.00 lewat dia selalu mengirimiku pesan. Entah itu hanya sapaan sederhana atau rentetan pertanyaannya yang kadang membuatku tersenyum sendiri membacanya. Dia seperti menanyakan segala hal, she is a curious girl.
Rasanya kembali teringat waktu pertama kali aku menyapanya di salah satu situs jejaring sosial dengan ciri khas warna biru itu. Aku mengiriminya pesan, aku bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Tentu dia kaget dengan isi pesanku, tapi dia tetap membalasnya, dia menanyakan alasanku tiba-tiba mengiriminya pesan seperti itu, tapi aku tidak menjawabnya dan membiarkannya tumbuh subur sebagai rahasia pertama di antara kita. Seperti halnya dia sekarang yang juga punya rahasia, dia selalu mengatakan padaku jika dia tidak ingin bertemu langsung denganku, entahlah, aku masih belum bisa mengira-ngira apa sebenarnya alasannya. Sempat terpikir jika mungkin dia memang lebih nyaman seperti ini, sebatas saling mengenal di dunia maya, saling bertukar kabar dan cerita-cerita baru lewat media sosial. Tapi apapun alasannya itu tidak terlalu jadi pikiran bagiku, aku sudah cukup senang dengan pertemanan ini, cukup senang walau hanya bisa menyapanya lewat doa-doa.
Tapi aku pun tidak keberatan menunggu jika suatu saat nanti dia berbaik hati menuliskan cerita pertemuan kita. Entahlah sudah berapa lama kita saling bertukar cerita, dia bahkan telah membaca semua postinganku di blog, jujur sebenarnya malu rasanya menerka-nerka apa gerangan yang ada di pikirannya saat membaca cerita-ceritaku ini, mungkinkah dia tertawa terbahak-bahak seperti biasanya atau hanya senyum kecil yang tersungging di bibirnya. Sepertinya memang aneh, dengan waktu sesingkat ini kita serasa sudah tahu bagaimana diri masing-masing, bahkan kita tak jarang juga saling menceritakan keluarga kita, aktivitas kita sehari-hari, warna kesukaan, tinggi badan, bahkan hal-hal yang lebih mendetail dan aneh lainnya. Sedikit membingungkan memang, ketika menemukan diri kita mau berbagi cerita tentang perasaan yang ada di dalam hati ini dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Dia bahkan tahu siapa seseorang yang dulu pernah aku suka dan dia pun mau menceritakan siapa seseorang yang dulu pernah dia suka, ya memang awalnya dia tidak berkata jujur padaku, tapi akhirnya tiba-tiba dia mengirim chat padaku dan mengatakan sejujurnya, sejak saat itu entah mengapa aku merasa kita bisa lebih dekat dan saling mengenal lebih jauh lagi. Yang lagi-lagi hanya lewat barisan kata. Dia pernah bilang, dia lebih memilih menyukai seseorang daripada harus disukai seseorang, alasannya sungguh lucu, dia hanya takut jika ada yang menyukainya, itu saja.
Sebenarnya aku sempat bingung dengan jawabannya dan aku pun tidak tahu lebih memilih mana saat dia menanyakan hal itu pula padaku. Tapi kini aku mulai sedikit paham, ya.. takut, dia mungkin takut saat ada seseorang yang menyukainya karena secara tidak langsung ada beban baru, ada satu lagi perasaan yang harus kita jaga selain yang sudah ada di dalam dada.
Memang benar kata orang, jika bicara soal hati sepertinya tidak pernah ada kata mati. Semakin jauh ke sini, rasanya aku seperti candu. Iya candu. Candu untuk selalu menjawab pertanyaannya dan balik bertanya. Candu menunggu chatnya mampir di layar ponselku hingga membuatku ikut begadang menemaninya. Candu yang sebenarnya cukup bisa membuat perasaanku bertanya-tanya. Bolehkah berharap bukan hanya aku yang jadi pembaca cerita?

Quantum Ikhlas (Part 1)

Dialah yang membuat yang tidak ada menjadi tampak nyata, dan meskipun itu ada, Dia pulalah yang membuatnya menjadi tidak tampak.

Jalaludin Rumi

Saat dulu SMA kita pernah belajar bahwa satuan terkecil pembentuk suatu materi adalah atom. Namun kapan kita bisa mengatakan sesuatu itu materi? Selama kita masih bisa melihat dan merasakannya. Lalu apa yang sebenarnya membentuk materi? Materi tercipta dari suatu getaran atau gelombang yang sangat cepat. Bahkan karena saking cepatnya, indera kita yang terbatas menangkapnya sebagai sesuatu yang ada, sesuatu yang terlihat. Seperti inilah dasar bagaimana sesuatu yang tidak terlihat adalah awal dari semua yang terlihat.

Dalam dunia fisika terdapat dua pandangan, yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Fisika klasik atau yang biasa disebut Newtonian memandang kejadian fisika berdasar pada sesuatu yang “solid”, yang terindra oleh manusia. Bahkan konsep mekanika yang ada pada paham ini berhasil membawa manusia hingga revolusi industri.

Di akhir abad 19 para ilmuwan mulai membuat penelitian mengenai benda benda yang amat kecil seperti atom. Namun konsep fisika klasik yang sudah ada tidak bisa digunakan dengan baik pada pola tingkah laku objek kali ini. Oleh sebab itulah muncul istilah seperti mekanika kuantum, fisika kuantum, atau teori kuantum.

Ada beberapa hal menarik tentang dunia kuantum. Pada level quanta, tingkatan terendah dari pembentuk materi, segala sesuatu berawal dari suatu “kehampaan”, berlakunya hukum ketidak-pastian, dan adanya hukum Non-Lokalitas, sehingga suatu materi bisa berada di tempat ini atau di mana-mana sekaligus. Quanta adalah gelombang yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Bisa kita lihat bagaimana nuklir menjadi salah satu produk Fisika Quantum. Apabila kita bisa mengotak-atik quanta tersebut maka akan ada Independent-shift dari objek yang kita ubah nilainya. Otomatis.

Nasib seseorang biasanya bergantung pada karakter yang dimilikinya. Adapun karakter terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan merupakan perwujudan dari tindakan-tindakan yang kita lakukan. Ketika kita bertindak tentu kita menggunakan pikiran kita. Hal yang paling mendasar dari sebuah pikiran adalah perasaan orang itu sendiri. Dari sini kita bisa melihat bagaimana Nasib, sesuatu yang terlihat, dipengaruhi oleh perasaan, sesuatu yang tidak terlihat.

Untuk memanipulasi kehidupan dari tingkatan yang paling dasar, tentu kita juga harus menggunakan tool  yang tidak terlihat pula. Oleh sebab itulah kita akan menggunakan “Ikhlas” dengan konsep kuantum. Ikhlas bukan berarti lemah, tak berdaya, dan hanya mengikuti arus. Dengan ikhlas terbukti bahwa seseorang akan menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Sebab ketika seorang telah bersama Allah, maka tak ada yang tak mungkin.

Diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar: “apabila seorang hamba berkata, “tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah” maka Allah Menjawab, ‘Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah ikhlas berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia, dan sampaikan hajat keinginannya.’”

Masihkah kita berpikir dua kali untuk ikhlas pada rencana Allah?


Tulisan ini merupakan materi yang saya dapat ketika membaca buku Quantum Ikhlas yang ditulis oleh Erbe Sentanu. Jika saudara ingin mengetahui lebih lengkapnya silahkan membeli bukunya. Saya hanya mencoba berbagi apa yang saya dapatkan. Terimakasih telah membaca.

Pembaca Ceritamu

Kita memang tak pernah bertemu, tapi begitu menyenangkan bisa berbagi cerita bersamamu. Membaca ceritamu.

Hari itu, entah karena apa kita bisa memulai percakapan di media sosial. Tak ada pendekatan, tak ada perkenalan. Hanya status teman “facebook” yang membuat kita memulai semuanya. Kau yang pertama kali memulainya. Kau ucapkan terima kasih untuk sesuatu yang hingga hari ini aku tidak tahu pastinya. Ketika percakapan dimulai, akhirnya kita saling mengetahui, kita bisa berteman karena memiliki teman yang sama.

Suatu hari aku diamanahi menjadi panitia suatu kegiatan. Aku berharap kegiatan ini bisa diketahui oleh banyak orang. Teringat oleh ku, beberapa hari yang lalu telah berkenalan dengan seseorang. Sepertinya tak ada salahnya jika aku meminta bantuannya. Tak banyak percakapan yang terjadi. Dia dengan senang hati membantuku untuk membawa kabar kegiatan ini.

3 bulan 19 hari berlalu, kami tak lagi bertegur sapa. Aku mencoba untuk menghubunginya lagi. Percakapan itu kembali dimulai. Sangat sederhana. Kami mulai bercerita tentang kesibukan kita saat ini. Kamu kuliah apa? Jurusannya apa? Serta pertanyaan sederhana lainnya mewarnai percakapan kami berdua. Sebenarnya percakapan kami hanyalah percakapan biasa. Tapi entah kenapa aku seperti semakin mengenalnya.

Percakapan kita mulai intens. Tak hanya tentang kuliah lagi, kau juga mulai bercerita tentang kisahmu. Ceritamu. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Aku pun mulai terbuka untuk menceritakan “ceritaku”. Tapi setelah itu kita kembali tak bertegur sapa. 1 bulan 39 hari berlalu. Percakapan sederhana itu kembali terjadi. Saat ini lebih terbuka, seakan kita sudah menjadi kawan sejak lama. Padahal kita belum pernah bertatap muka.

20140106_020829_tulisan-tangan-handwriting

Cerita ini sepertinya tak jauh-jauh dari media sosial. Kita kembali “bertemu” di “instagram”. Terlihat aneh saja ketika kita malah berbalas pesan di kolom komentar. Akhirnya kita pindah ke “LINE”. Hahaha, kisah macam apa yang terjadi seperti ini.

Sejak hari itu kita menjadi semakin terbiasa dengan satu sama lain. Walau tak pernah bertemu, sepertinya aku semakin mengenalmu. Ada satu hal yang paling menarik yang bagiku ketika mengenalmu. Kita memiliki golongan darah yang sama. Aku yakin itu tidak terlalu penting. Namun aku yakin ada banyak kesamaan di antara kita.

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tapi apalah daya aku bukan orang yang tahu segala seluk beluk cerita ini. Saat ini aku hanya mampu menjadi pembaca ceritamu. Bahkan selamanya aku hanya bisa menjadi pembaca ceritamu. Terima kasih telah berbagi cerita. Ceritamu.

Entah karena kesepian ada angin apa, rasanya ingin sekali hari ini diisi dengan movie marathon. Salah satu film yang sangat menyentuh adalah Film ini.  Judul film ini adalah Home (2015). Andai saja ada teman untuk nonton film ini, pasti akan lebih seru. Hehehe

Film ini bercerita tentang bangsa BOOV, makhluk yang datang dari luar angkasa dengan misi pelarian dari musuhnya, bangsa gorg. Bangsa gorg hendak menghancurkan Bumi karena mengincar bangsa BOOV yang membawa sesuatu dari bangsa gorg. Akibat seorang makhluk dari bangsa BOOV yang bernama “oh!”, pelarian dari para makhluk ini menjadi terancam. Untung saja ‘oh’ bersama seorang anak manusia yang bernama ‘tip’ berhasil bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan ‘oh’. Tapi sayang sekali bangsa gorg tetap datang ke bumi. Bumi terancam dihancurkan. Kelanjutannya nonton sendiri yah, capek nge reviewnya :v

Ada nilai-nilai kehidupan yang diisyaratkan oleh cerita ini. Salah satu yang paling berkesan menurut ku adalah tentang interaksi antar manusia. Bangsa BOOV tidak terbiasa untuk berinteraksi antar sesamanya. Itu mungkin karena mereka tinggal di planet yang sangat luas. Sehingga jarak antar mereka sangat berjauhan. Tak ada istilah tetangga. Tak ada istilah keluarga. Hal inilah yang kemudian diajarkan oleh ‘tip’ kepada ‘oh’.

Disaat bangsa BOOV belajar menjadi lebih “manusia”, manusia dengan segala kecanggihan teknologinya mulai seperti bangsa “boov”. Menjauhkan diri di dunia nyata dan merasa lebih hidup di dunia maya. Sudah jarang sekali ada sapaan antar tetangga. Entah jadi apa kehidupan di bumi 20-30 tahun lagi. Semoga saja ini hanya mimpi buruk.

Selamat “oh”, kau harus bersyukur karena saat ini kau punya teman untuk bercerita. Teman untuk berbagi perasaan dan bersama mejalani kehidupan.

“kurang dari 80 jam lagi”  – Bukitinggi, 26 Januari 2016

Halo Sabtu

Halo sabtu, walaupun ini hari jumat, aku ingin sekali menyapamu. Sepertinya kau merasa beruntung karena telah menjadi yang terpilih. Sesuatu yang mungkin akan selalu aku tunggu setiap minggu. Tak usah kamu pertanyakan kenapa aku berbuat seperti itu. Biarlah ini tetap menjadi rahasia dia dan aku.

Ada apa sabtu? Sepertinya kau benar-benar ingin tahu apa yang spesial pada dirimu. Jika benar kau ingin tahu, aku akan memberitahu. TAK ADA yang spesial darimu. Sama sekali tak ada. Jadi tak usah pula kau mengangkat dagu.

Kenapa sabtu? Tak usah pula kau bersedih hati seperti itu. Aku akan beritahu sesuatu padamu.

“…..”

Bagaimana sabtu? Sudahkah kau mengerti? Sudahkah kau pahami? Untuk itu bantulah aku. Karena mulai saat ini aku akan mulai banyak menitipkan cerita ini padamu. Jangan pula kau umbar-umbar pada kawan-kawan mu. Jalani saja tugasmu sebagai hari sabtu. Hingga kami ini bersatu.

image

Terimakasih sabtu.

Mempersiapkan – Bukittinggi, 22 Januari 2016

Hai Jarak

Kurang-lebih nilai mu 1949 kilometer. Nilai yang tak bisa dikatakan kecil. Nilai yang hampir mendekati 2/40 keliling bumi. Ya, keliling bumi di garis khatulistiwa.

Hai jarak, apa kabar mu? Sepertinya kau puas sekali melihat keadaan ku seperti ini. Tertimbun oleh rindu yang entah sampai kapan. Andai saja kau pernah merasakan betapa beratnya menjalani ini semua. Hidup bersamamu membuat segalannya seperti khayalan. Mimpi. Semoga saja tidak benar demikian.

Halo jarak, aku yakin kau bersekongkol dengan waktu. Kalian telah merencanakan semua ini dari awal. Bahkan sebelum aku lahir ke muka bumi ini. Kalian telah mempersiapkan skenario yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.

Tenang saja, aku bukan orang yang mudah dikalahkan. Suatu saat nanti akan kutunjukan pada kalian. Aku adalah aktor yang hebat untuk cerita yang kalian siapkan.

Sebenarnya dibalik rasa sesak ini, aku ingin mengucap terimakasih pada kalian. Aku merasa lebih terjaga dengan cara ini. Aku percaya setiap skenario Tuhan adalah yang terbaik. Sekarang aku hanya bisa berusaha dan berdoa. Semoga keinginan hati ini diijabah olehNya.

image

Hari ini kau jadi saksi jarak. Perjuangan seorang anak manusia untuk mencapai cita-citanya. Mungkin kau dapat membantu ku dengan doa-doa mu. Ada yang bilang kau juga makhluk yang bisa didengar oleh Tuhan.

Terimakasih Jarak. 🙂

Cerah – Bukittinggi, 21 Januari 2016

Blog di WordPress.com.

Atas ↑