(Bukan) Sajak Biasa

Mungkin ini (bukan) sajak biasa. Sajak yang hadir di tengah kesendirian karena meratapi luka. Aku tak bercanda, luka ini bukan luka biasa. Sakitnya bisa pergi dan datang tiba-tiba. Entah kapan akan ku dapat penawarnya.

Kali ini aku benar-benar sendiri. Sendiri dalam istilah dunia materi. Hahaha, suatu saat kau akan mengerti. Terkadang hal seperti ini yang bisa membuat aku semakin mengenal diri.

Percayalah, ini semua bukan tentang mu. Tak ada rasa bersalah ataupun rasa keliru. Ini semua tentang diriku.

Entahlah. Entah sampai kapan aku akan terus berada pada siklus ini. Sesungguhnya. Aku percaya, suatu hari nanti akan ada penangkalnya. Aku hanya sedang rindu bersajak ria pada sore ini. Maaf bila semua ini mengganggumu.

Sepertinya memang benar, aku perlu menuliskan sebuah cerita baru. Sastra sepertinya adalah salah satu kebutuhan hidupku. Berkecamuk dengan perasaan sendiri terkadang membuatku merasa lebih hidup. Aneh memang. Hahaha. Selera bukan sesuatu yang harus diperdebatkan bukan.

Terimakasih kasih langit biru. Terimakasih pasir dan debu.

Bersama kuda di bukit ambacang – Bukittinggi(perbatasan), 28 Juli 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: