“Dimana kau simpan muka kemarin?”

“Bukan urusanmu, hari ini aku memakai muka ini.”

“Baiklah, akan aku cari muka yang lain.”


Matahari belum terbit, namun mereka berdua sudah mulai sibuk mempersiapkan hari. Mereka dari tadi sibuk mondar-mandir antara cermin dan lemari. Sepertinya mereka kebingungan hendak menggunakan muka apa hari ini. Mereka berdua adalah teman satu kontrakanku. Yang pertama adalah pekerja MLM dan satu lagi adalah kader sebuah partai yang pekerjaannya tidak pernah aku mengerti. Aku pun mencoba mengumpulkan nyawa dan menuju kamar mandi.

“Boleh ku pinjam mukamu?”, sapa salah seorang temanku ketika aku hendak memulai gosok gigi.

“Aku hanya punya satu, jangan kau ganggu punya ku itu”, suaraku meninggi, memulai gosok gigi.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku heran kedua temanku telah pergi tanpa permisi. Biaralah. Ini bukan yang pertama kali. Aku menuju ruang makan, berharap bisa memakan dua-tiga potong roti. Namun tahukah kau apa yang aku dapati? Muka berserakan di sana sini. Ini pasti punya mereka yang pesta malam tadi. Ku punguti satu persatu dan ku rapikan di dalam lemari. Aku sudah tak bernafsu lagi memakan roti.

Kuambil mukaku di dalam lemari dan bersiap-siap untuk pergi. Ketika hendak mengunci pintu, salah satu temanku kembali.

“Jangan dikunci, kau pergi saja. Aku ada sedikit urusan di sini”, merebut kunci.

“Baiklah, tapi jangan lupa kau kunci, aku tak mau kejadian seminggu yang lalu terjadi lagi”.

“Tenang muka baru untukmu adalah janji kami”.


Seminggu yang lalu aku adalah orang paling beruntung di dunia. Semua orang terkesima dengan muka yang aku punya. Tak pernah ada orang yang punya muka seindah itu. Aku mendapatkannya dari seorang kakek tua ketika hendak menuju kontrakan. Konon kabarnya muka itu hanya ada dua di dunia. Yang pertama dimiliki oleh seorang presiden yang dulunya seorang tentara. Yang kedua adalah muka yang kini aku punya. Namun sayang muka yang dimiliki sang presiden dirusak seekor binatang ketika dia menemui ajalnya.

Hari itu adalah hari yang paling istimewa. Pada hari itu semua orang tersihir dengan perkataanku. Percaya pada semua argumenku. Aku dihormati bak seorang raja. Tak ada seorang pun yang mengetahui siapa sebenarnya diriku. Muka yang luar biasa.

Namun siapa sangka ada orang yang mengincar muka ini. Mereka memanfaatkan kealpaan dari seorang temanku. Dia lupa mengunci kontrakan. Maka dengan mudah mereka masuk dan memporak-porandakan kontrakan dan perabotan. Diambilnya muka terbaikku tanpa rasa bersalah sama sekali.


Kini aku tak punya muka lain lagi. Mungkin memang hanya ini muka ku. Muka yang aku pakai saat ini.

Kini aku tak punya muka lain lagi. Mungkin memang hanya ini muka ku. Muka yang aku pakai saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: