Self-Consciusness in Ramadhan

“Seberap sadarkah engkau terhapad segala seseuatu yang engkau lakukan?”

Tadi malam saya mengikuti salah satu kegiatan ramadhan di Masjid Raya Universitas Padjadjaran. Kegiatan malam itu cukup ramai dan menarik perhatian saya. Sang ustad berbicara tentang korelasi antara ULIL ALBAB, orang-orang yang berpikir, dengan sistem pendidikan di bulan ramadhan. Orang-orang yang menguasai diri mereka seutuhnya. Orang-orang yang memiliki kesadaran tinggi dalam setiap tindak tanduk yang mereka lakukan.

Orang orang seperti inilah yang mampu memberikan pengaruh besar dalam pergerakan dunia. Seberapa seringkah kita sadar terhadap apa yang kita lakukan? Sadar sebenar-benarnya bahwa saat itu kita sedang berdiri, sadar sedang bernafas, sadar sedang berbaring. Merasakan setiap instrumen pembentuk tubuh ini mengikuti semua hal yang kita lakukan, keinginan kita. Melakukan sesuatu sesadar dan senyata mungkin.

Dalam bulan ramadhan kaum muslimin dituntut untuk lebih memperpeka indra ketuhanannya. Dengan rasa lapar sebagai asosiasi keberadaan Tuhan, mereka akan selalu sadar bahwa mereka selalu diperhatikan oleh Sang Pencipta. Dengan demikian self-conciusness mereka akan terbangung menjadi lebih peka. Oleh sebab itulah banyak orang mengatakan bahwa Ramadhan adalah madrasah (sekolah) yang mengajarkan banyak nilai kehidupan. Sebab banyak pesan kehidupan yang kita pelajari tanpa pernah kita sadari.

#MariMenggaliDiri

Jatinangor, 22 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: