Sketsa Kehidupan

Ketika Idealisme dibenturkan dengan realita, ketika pertimbangan panjang dibenturkan dengan waktu yang menyempit, ketika jutaan kepentingan ditabrakkan dengan berbagai keterbatasan, ketika luangnya kesempatan disesaki oleh prioritas, saatnya setiap pribadi untuk menentukan, harapan dan angan-angan selamanya akan menjadi imajinasi jika tak ada usaha yang berarti.

Ketika kehidupan tidak memberikan waktu lama bagi kita untuk menentukan, maka putuskan, bukankah tuhan senantiasa memosisikan kita dalam persimpangan jalan dan kita harus selalu memilih?, bukan diam, bukan nerimo ing pandum, Jiwa ini dianugerahkan bukan hanya menghidupkan jasad dan berhenti, jiwa ini dianugerahkan untuk mendobrak kebekuan, memecah kemandegan, menghidupkan kematian suri.

Ketika di luar sana, orang berteriak, menyuarakan aspirasi, menyuarakan transparansi, demokrasi dan membungkam kebobrokan pemerintah, mereka bukan hina, mereka memilih sebuah langkah, ya.. mereka telah memilih bukan dipilihkan, karena hidup adalah memilih di sebuah persimpangan, mereka menumbuhkan idealisme, memupuk nasionalisme, membuncahkan keduanya dengan aksi, bukan hanya dengan angan dan harapan.

Mereka yang menulis…

Lihat pos aslinya 277 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: