Kenalkan, ini dia.

Hari ini merupakan hari bersejarah untuknya.

Ya, dia yang kini telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku.

Setelah sekian lama tidak menulis di sini, akhirnya aku memutuskan untuk menulis kembali. Terimakasih untuk dia yang mengingatkan aku bahwa aku punya suatu tempat seperti ini, disini. Tempat dimana aku bisa menceritakan semuanya dengan nyaman. AHA! Sepertinya aku paham kenapa aku sudah lama tidak (perlu) bercerita lagi disini. Sebab ini tidak lagi menjadi satu-satunya tempat. Aku telah menemukan tempat dimana aku bisa berbagi segalanya, semuanya.

Kamu tak mengenal dia ya? Baiklah akan aku ceritakan bagaimana kisah dia dan aku bermulai.

Hari itu 20 Oktober 2020, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di saat aku mendatangi prosesi wisuda teman-temanku di ITB. Sebenarnya dia juga merupakan salah satu temanku ketika kami masih berada di MAN (setara SMA), akan tetapi kami tidak begitu dekat (kalau menurut dia bahkan aku transaparan, dia tak mengenal aku sama sekali. Padahal dulu kami sempat beberapa kali berkomunikasi).

Lalu bagaimana kami bisa dekat?

Nah singkat cerita, setelah selesai dengan seremonial wisuda dan foto-foto, aku dan semua teman-teman MAN ku berencana untuk pergi ke sebuah cafe. Nah karena semua orang sudah membawa tumpangan masing-masing, berakhirlah dia harus ikut naik motorku. Saat perjalanan menuju motor, ketika kami hendak keluar gedung, aku membukakan pintu. Sikap aku tersebut dikomen oleh dia. Dia bertanya padaku, apa alasan aku melakukannya. Aku pun menjawab bahwa aku hanya melakukakannya sebagai manner. Hanya untuk niat sopan santun. Lalu percakapan itu berlanjut dengan beberapa kalimat yang menunjukan dia merasa punya paham yang sama denganku.

Kampi pun sampai di atas motor, dan segera berangkat menuju titik lokasi.

Saat berada di atas motor, awalnya kami berdua hanya saling berdiam. Mungkin dia merasa kurang nyaman, sebab dia dan aku memang kurang dekat. Tapi entah bagaimana, percakapan pun terjadi antara dia dan aku. Percakapan itu bukan percakapan biasa. Aku merasa saat itu aku bertemu dengan seorang sahabat lama yang bersedia saling berbagi keluh kesah, semuanya. Saat itu aku baru saja melalui salah satu fase yang berat di hidupku.

Sesampai di lokasi, ternyata dia dan aku sampai lebih awal dari yang lainnya. Kami pun memilih tempat duduk dan percakapan kami kemabali berlanjut. Semakin lama semakin nyaman, sangat menyenangkan. KLIK. Itulah yang aku rasakan. Saat itu tak terpikir olehku bahwa kami akan sampai pada tahap ini. Sangat menyenangkan saat aku akhirnya menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara seperti ini.

Teman-teman kami pun satu persatu datang. Mereka pun membaur dengan kami dan sekarang semuanya menjadi saling bercengkrama. Kami disana saling bertukar cerita. Memang kami jarang sekali punya kesempatan berkumpul seperti ini. Kami terus berada disana hingga selesai menyelesaikan shalat isya. Dan seperti biasa, we want more. Kami berencana untuk pindah tempat tongkrongan. Nah, saat pindah inilah, pertama kalinya aku merasa sedih untuk berpisah dengan dia. Bukan sedih yang penuh ratapan, ini sesuatu sedih seperti kehilangan teman untuk berbagi, kehilangan tempat yang menyenangkan. Percayalah saat itu aku belum jatuh hati, aku hanya sangat menyukai dia sebagai teman, sebagai tempat untuk berbagi cerita. Rasanya sangat banyak hal yang ini aku bagi bersama dia. Tapi mau bagaimana lagi, kami harus berpisah untuk sementara, dia naik mobil dan aku naik motor.

Setelah kejadian tersebut ternjadi banyak hal. Akan tetapi mari kita skip saja bagian naik gunung, sarapan bareng, ngopi di starbucks, jalan di taman kota, dan nonton bioskopnya.

Foto dia, aku, dan teman-teman kami :v

Setelah hari-hari itu, dia pun harus kembali ke jogja, tempat dia sedang menyelesaikan studinya. Komunikasi kami terus berjalan sejak saat itu. SIngkat cerita akhirnya kami memutuskan untuk bersama (ini beneran singkat cerita, soalnya banyak banget hal yang terjadi setelah ini). Akan sangat panjang jika semuanya harus diceritakan disini. Aku akan menceritakannya lain waktu.

Lalu bagaimana sekarang? Sekarang semuanya luar biasa.

Oh iya terlalu asyik bercerita, sampai lupa hari ini aku ingin merayakan hari bahagianya. Sebenarnya aku sedih karena tidak bisa hadir disampingnya pada kesempatan kali ini. FYI, saat ini tejadi pandemi di seluruh dunia yang disebut dengan COVID-19 a.k.a corona. Jadi semua orang harus menjaga jarak satu sama lain, akeses publik dibatasai dan diberlakukan social distancing.

Jadi di kesempatan kali ini izinkan aku dengan sepenuh hati mengutarakan

Selamat Ulang Tahun Azizah Muthi'ah. 
Semoga umurmu berkah dan tercapai semua cita-citamu.

Penuh rasa cinta – Bukittinggi, 31 Juli 2020

Bab 1: AWAL (Hers)

Awalnya kau dan aku hanyalah teman
Tanpa kenangan
Kecuali nama tanpa kesan

Awalnya kau dan aku tak punya pilihan
Hanya berasas rasa kawan
Berusaha saling mencipta nyaman

Awalnya kau dan aku sekadar bertukar pengalaman
Disebuah kedai minuman
Tanpa terpikir membangun ikatan

Awalnya kau dan aku terjebak dalam keriuhan
Bergandengan tangan
Agar tak terpisahkan

Tanpa sedikit pun harapan
Muncul sebuah bisikan
Ah, akhirnya kau telah kutemukan!

Larut pagi, Jogja
10 Feb 19

BAB 1 Awal

BAB 1 AWAL

awal pertemuan kita, bukanlah kejadian luar biasa
awal pertemanan kita, dimulai dengan berbagi cerita
awal pembicaraan kita, pun topik sederhana
awal kisah kita, jadi perdebatan sepanjang masa

awal ku melihatmu adalah awal yang indah
awal ku tahu kisahmu adalah keharuan untuk ku
awal kau datang kemari adalah kesempatan bagiku
saat kau baik padaku, awal ku datang ke jogja hari itu

Lanjutkan membaca “BAB 1 Awal”

Akal dan Hati

Hi there,

Sudah lama sejak terakhir kali kita berbagi cerita. Kali ini aku akan berkisah tentang sebuah Hati yang dikalahkan oleh Akal ( bukan Akal dikalahkan oleh Hati ).

Mungkin dalam kebanyakan kasus, seringkali Akal yang dikalahkan oleh Hati. Tapi berbeda dengan cerita yang dimulai beberapa tahun yang lalu ini. Ada masanya akal menjadi begitu dominan sehingga mengesampingkan pendapat dari hati. Merasa semuanya akan baik-baik saja jika kita mau melihat sisi baik dan semua dampak positifnya. Akal akan mulai membuat banyak hukum sebab-akibat untuk meyakinkan Hati bahwa semuanya baik-baik saja dan akan berjalan dengan baik. Lanjutkan membaca “Akal dan Hati”

Disiplin adalah Sebuah Kebebasan

 

timemanagement_1600x900

Alkisah di dalam sebuah hutan, hiduplah seekor lebah bernama Bee. Bee adalah seekor lebah yang  sangat menikmati hidupnya. Setiap hari dia pergi mencari nektar lalu ia mengumpulkan semua itu di sarangnya sehingga menjadi madu. Suatu hari ada seekor beruang yang sangat kelaparan dan ingin memakan madu. Lalu bertemulah sang beruang dengan sarang yang selama ini dihuni oleh Bee. Ketika sang beruang mulai menyerang sarang lebah, tanpa berpikir panjang Bee langsung menyengat sang beruang. Malang nasib Bee, dia tidak tahu bahwa setelah dia menyengat sang beruang, dia akan kehilangan bagian tubuhnya yang akan membuat dia kehilangan cairan. Akhirnya Bee pun mati.

Lanjutkan membaca “Disiplin adalah Sebuah Kebebasan”